BUDI HARDIMAN PDF

Dengan idenya tentang ruang publik itu, dia yakin bahwa keutuhan masyarakat-masyarakat terglobalisasi dewasa ini dapat dipertahankan dan didinamiskan oleh rasionalitas manusia. Keyakinan seperti itu tidak dapat kita temukan lagi di kepala kebanyakan filsuf kontemporer karena wajah filsafat Barat memang sudah banyak berubah. Apa yang membedakan filsafat Barat dewasa ini dengan filsafat Barat dalam abad-abad sebelumnya? Di dalam abad-abad yang silam filsafat mengandaikan begitu saja kebenaran konsep-konsep, seperti: alam, subyektivitas dan 1 Habermas, Between Naturalism and Religion, Polity, Cambridge, , hlm. Manusia dianggap sebagai makhluk rasional yang mengatasi alam dan memiliki pusat kesadaran. Manusia adalah subyek yang menghadapi alam sebagai obyeknya.

Author:Misida Kigalar
Country:Burkina Faso
Language:English (Spanish)
Genre:Life
Published (Last):24 September 2010
Pages:452
PDF File Size:12.16 Mb
ePub File Size:6.98 Mb
ISBN:309-7-84725-764-8
Downloads:56162
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gardagami



Dengan idenya tentang ruang publik itu, dia yakin bahwa keutuhan masyarakat-masyarakat terglobalisasi dewasa ini dapat dipertahankan dan didinamiskan oleh rasionalitas manusia. Keyakinan seperti itu tidak dapat kita temukan lagi di kepala kebanyakan filsuf kontemporer karena wajah filsafat Barat memang sudah banyak berubah. Apa yang membedakan filsafat Barat dewasa ini dengan filsafat Barat dalam abad-abad sebelumnya?

Di dalam abad-abad yang silam filsafat mengandaikan begitu saja kebenaran konsep-konsep, seperti: alam, subyektivitas dan 1 Habermas, Between Naturalism and Religion, Polity, Cambridge, , hlm. Manusia dianggap sebagai makhluk rasional yang mengatasi alam dan memiliki pusat kesadaran. Manusia adalah subyek yang menghadapi alam sebagai obyeknya. Subyek atas alam ini juga subyek atas sejarah, yakni dia adalah tuan atas sejarah yang mampu mengubah sejarahnya. Dia adalah aktor bagi kemajuan.

Gaya berpikir macam ini dalam filsafat dewasa ini dipersoalkan secara radikal. Para filsuf kontemporer bersikap curiga tidak hanya terhadap konsep alam, subyektivitas dan kemajuan macam itu, melainkan juga terhadap konsep rasionalitas modern itu sendiri, pemahaman mengenai akal budi yang beroperasi dalam ilmu-ilmu alam.

Alih-alih memenuhi janji-janji emansipasi sosial yang diimpikan sejak zaman Pencerahan, konsep rasio modern telah berubah menjadi dominasi, mitos dan ideologi dalam sosoknya yang baru.

Keseluruhan etika politik Habermas dapat dimengerti dalam konteks tendensi skeptis macam itu. Tanggapan Habermas atas problem itu sangat khas: Dia menyambut segi-segi yang benar dari kritik-kritik atas rasio itu, namun dia juga sekaligus hendak menyelamatkan unsur-unsur emansipatoris dari konsep rasio modern.

Strateginya adalah dengan menerobos jalan buntu yang dihadapi para pendahulunya dari Mazhab Frankfurt dan mengatasi defisit dalam konsep rasio praktis versi Kant melalui sebuah konsep rasio prosedural. Baik dalam etika diskursus maupun teori diskursus Habermas melanjutkan strategi perubahan dari paradigma filsafat subyek ke paradigma intersubyektivitas dengan melontarkan kritiknya atas filsafat praktis Kant. Kritik ini berkaitan dengan keberatannya terhadap pengandaian-pengandaian dasar Mazhab Frankfurt yang bertumpu pada konsep Immanuel Kant tentang rasio praktis.

Menurut Habermas rasio praktis beroperasi dalam model filsafat subyek. Berbeda dari rasio murni yang merupakan kemampuan akal budi manusia untuk memperoleh pengetahuan teoretis, rasio praktis adalah kemampuan akal budi manusia untuk mengetahui baik atau buruknya suatu tindakan.

Rasio praktis adalah dasar moralitas dan hukum. Dalam konsep rasio praktis tersebut Kant mengandaikan subyek tindakan sebagai sesuatu yang menimbang-nimbang secara sendirian apa yang seharusnya dia lakukan. Subyek otonom ini menimbang- nimbang, maksim tindakan manakah yang sekiranya legitim sebagai norma penetapan undang-undang untuk semua orang.

Kant lalu merumuskan maksim tindakan itu di dalam imperatif kategoris yang termasyhur itu. Subyek dari rasio praktis ini menurut Habermas mengambil keputusannya secara monologal, yakni tanpa konsensus dengan subyek-subyek lainnya. Habermas mencoba Makalah Seri Kuliah Umum November 3 menafsirkan etika Kant yang berdasar pada solipsisme metodis ini dalam horizon filsafat intersubyektivitas.

Konsep rasio praktis dipikirkan secara berbeda sebelum Kant, yakni sebelum modernitas. Rasio praktis dalam filsafat sebelum Kant itu tidak berpijak pada filsafat subyek. Di dalam filsafat Aristoteles, misalnya, masih ada hubungan internal antara rasio praktis dan komunitas kultural. Para warga polis, negara-kota di zaman Yunani kuno, berupaya mencapai konsensus untuk menentukan tujuan bersama yang akan mereka wujudkan di dalam kehidupan bersama mereka secara politis.

Menurutnya Kant lalu melepaskan rasio praktis ini dari konteks komunitas dan melucuti ciri-ciri sosialnya sedemikian rupa sehingga rasio praktis menjadi kemampuan subyektif belaka. Rasio praktis Kant mengacu pada otonomi individu, yakni pada hakikat manusia yang universal atau tak tergantung pada konteks sosial dan historis tertentu.

Hegel, filsuf idealis sesudah Kant, lalu menerapkan kemampuan subyektif ini pada ranah sejarah dengan mengandaikan bahwa kemampuan subyektif individu itu identik dengan kemampuan subyektif suatu bangsa.

Dengan kata lain, Hegel memperluas konsep rasio praktis Kant itu dari individu ke seluruh masyarakat. Sejarah suatu bangsa yang berjuang meraih otonominya bersesuaian dengan riwayat hidup individu otonom.

Dalam arti ini rasio praktis menemukan kembali basis sosialnya seperti yang terdapat pada filsafat Aristoteles. Habermas berupaya untuk membuktikan bahwa penggunaan konsep rasio praktis a la Kant baik di dalam teori sosial maupun teori politik tidak lagi dapat dipertahankan.

Karena cara refleksinya yang bersifat monologal itu rasio praktis bahkan dicurigai bersifat absolutistis dan totaliter. Absolutisme dari rasio praktis terkandung dalam imperatif kategoris, perintah yang harus dipatuhi oleh subyek tanpa syarat, sementara dalam mengenali imperatif ini subyek tidak membuka dialog dengan subyek-subyek lain.

Hasil dari pengenalan yang diperoleh secara monologal ini lalu diklaim sebagai hakiki. Dan apa saja yang hakiki adalah total, sehingga kebenaran dari pengetahuan yang diperoleh oleh subyek yang monologal ini dianggap legitim untuk semua makhluk rasional.

Bagaikan seorang diktator yang memberlakukan pikiran dan kehendaknya sendiri kepada seluruh rakyatnya, subyek rasio praktis menerapkan pengetahuan moral yang diperolehnya kepada semua subyek rasional tanpa dialog, yakni semata-mata melalui asas-asas universal yang dapat dideduksikan. Esensialisme macam ini dalam filsafat kontemporer dituduh menyembunyikan tendensi-tendensi kekuasaan totaliter, karena pendapat seorang pemikir diterapkan begitu saja pada kompleksitas sosial.

Karena itu konsep rasio yang sudah klasik ini sulit diterima dalam filsafat dewasa ini. Krisis etika Kant menurut Habermas tampil dewasa ini dalam kecenderungan filsafat negara dan teori politik untuk meninggalkan dimensi normatif. Bidikannya adalah pada teori-teori Marxis dan teori sistem yang dibangun oleh Niklas Luhmann.

Kebangkrutan tersebut juga kelihatan dalam bentuk penolakan rasio sebagai keseluruhan, sebagaimana terjadi di dalam kritik-kritik pasca- modernisme atas rasio. Bidikannya adalah pada Foucault, Derrida, Bataille dst. Sebagai seorang ahli waris tradisi filsafat kritis Jerman, Habermas berupaya Makalah Seri Kuliah Umum November 4 keras untuk mengatasi krisis tersebut dengan menyarankan sebuah strategi: Dia merekonstruksi konsep rasio praktis menjadi konsep rasio komunikatif, dan konsep rasio komunikatif tersebut di dalam filsafat politik Habermas dipahami secara proseduralistis.

Intersubyektivitas sebagai Paradigma Baru Etika Banyak filsuf kontemporer melakukan apa yang disebut decentring of subject di dalam pemikiran mereka. Setuju dengan kritik-kritik pasca-modern, Habermas menunjuk esensialisme yang mendasari seluruh tradisi filsafat Barat sebagai biang keladi totalitarianisme, namun berbeda dari pasca-modernisme dia tidak menampik rasonalitas, melainkan tetap mempertahankan konsep rasio kritis yang berkembang dalam tradisi Pencerahan Barat.

Untuk memahami maksud Habermas itu saya akan mengambil bidang peradilan sebagai contoh. Di dalam proses pengadilan orang tunduk pada prosedur-prosedur tertentu untuk menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi di antara orang-orang yang berperkara. Untuk itu orang harus bertolak dari anggapan bahwa proses pemeriksaan melalui pengadilan itu tidak memihak di hadapan berbagai macam kepentingan yang saling bertentangan.

Proses pengadilan tersebut hanya mungkin dan hanya dapat terlaksana, jika proses itu berdasarkan pada sebuah ide yang mengatasi proses itu, yakni ide keadilan. Keadilan memang tak dapat diwujudkan sepenuhnya, karena kepentingan- kepentingan tersembunyi dari pihak-pihak yang berperkara ataupun dari hakim tak dapat dikalkulasi.

Akan tetapi fakta dari ide keadilan itu harus diandaikan, supaya proses pengadilan itu dapat berlangsung. Ide keadilan itu bersifat konstitutif, karena tanpanya proses pengadilan itu tak dapat terlaksana. Ide itu sekaligus juga regulatif karena berlaku sebagai prosedur untuk memeriksa apakah proses itu sendiri adil atau tidak.

Kita dapat memahami konsep rasio prosedural yang diusulkan Habermas itu dengan bantuan model proses pengadilan di atas: Rasio prosedural ini memeriksa kesahihan produknya sendiri. Apa yang sangat penting dalam rasio prosedural bukanlah kemasukakalan dari tatanan dunia yang dirancang oleh seorang subyek secara monologis, melainkan prosedur yang diakui secara intersubyektif.

Lewat prosedur itulah produk-produk proses-proses rasional memperoleh kesahihannya. Hal ini berarti bahwa sifat rasional tidak dapat Makalah Seri Kuliah Umum November 5 dicapai semata-mata oleh seorang subyek tunggal. Di dalam proses pengadilan keadilan dapat didekati melalui argumentasi rasional dengan para peserta lain.

Begitu pula sifat rasional dari sebuah klaim rasio hanya dapat dicapai secara komunikatif, yaitu melalui pemahaman timbal-balik dengan subyek-subyek lainnya. Rasio prosedural tidak lain daripada penjelasan lebih rinci dari konsep rasio komunikatif. Di dalam proses pengadilan keadilan tidak dapat terwujud, bila kekuasaan campur tangan di dalam proses pengadilan.

Demikian juga klaim rasio tidak masuk akal, jika klaim itu dikeluarkan di bawah paksaan. Karena itu untuk memberi sifat rasional sebuah klaim sangat pentinglah sebuah prosedur yang memastikan bahwa orang dapat mengeluarkan klaim tanpa paksaan dan bebas kekuasaan. Mekanisme pemeriksaan secara intersubyektif dan prosedur yang diterima secara intersubyektif adalah syarat-syarat formal yang mengandung rasio prosedural.

Berbeda dari etika-etika lain yang dikembangkan dalam filsafat Barat, etika diskursus keluar dari perangkap filsafat kesadaran yang sejak Descartes mengurung para etikus Barat. Diskursus Praktis Untuk memahami apa itu etika diskursus, kita perlu memahami lebih dahulu apa itu diskursus praktis. Kehidupan bersama di dalam sebuah masyarakat membentuk suatu tatanan sosial, jika para anggota masyarakat ini mematuhi norma-norma tertentu yang mengatur prilaku mereka.

Kepercayaan akan pandangan-dunia Weltanschauung tradisional dan sikap menerima begitu saja pendasaran-pendasaran konvensional atas norma-norma dalam taraf tertentu dapat mereproduksi dan menstabilkan tatanan sosial tersebut. Namun di dalam masyarakat modern orang tak dapat menerima begitu saja norma- norma yang mengatur prilaku mereka.

Jika sistem-sistem kepastian tradisional mengalami krisis dan segalanya dapat dipersoalkan, menurut Habermas, orang harus membuat norma-norma yang mengatur prilaku mereka menjadi rasional, tidak hanya dengan memberinya alasan-alasan rasional, melainkan juga melegitimasikannya secara intersubyektif.

Dengan kata lain, orang harus mencapai konsensus rasional atas norma-norma tersebut. Habermas memasukkan moral juga ke dalam norma-norma prilaku yang harus diuji secara intersubyektif itu. Di dalam tipe diskursus ini para peserta mempersoalkan klaim ketepatan dari norma-norma yang mengatur tindakan mereka. Pertanyaan penting di sini adalah: Dalam kondisi-kondisi manakah kita dapat mencapai konsensus rasional atas norma-norma itu?

Jawaban Habermas atas pertanyaan ini dapat saya ulas di sini dalam dua langkah. Pertama-tama saya akan menunjukkan ciri-ciri formal dari diskursus praktis sebagai prosedur komunikasi. Lalu saya juga akan menunjukkan asas-asas pengujian secara diskursif. Makalah Seri Kuliah Umum November 6 3. Idealisasi dan Prosedur Komunikasi Habermas memahami diskursus praktis sebagai sebuah bentuk komunikasi khusus dengan niveau yang tinggi. Para peserta diskursus praktis ini mencoba memecahkan norma-norma yang problematis secara kooperatif agar konsensus yang dicapai secara intersubyektif sesuai dengan kehendak semua peserta.

Tujuan diskursus praktis adalah pemahaman timbal-balik atas norma-norma tindakan yang dipatuhi bersama. Hanya konsensus yang diterima oleh semua peserta secara intersubyektif dan tanpa paksaan dapat dianggap rasional. Hal ini bagi Habermas merupakan prasyarat-prasyarat ideal yang tak dapat ditawar-tawar lagi, namun prasyarat-prasyarat tersebut tidak muncul begitu saja.

Menurutnya prasyarat-prasyarat itu sudah efektif di dalam situasi komunikasi sehari-hari. Kesepakatan-kesepakatan faktual tidak jarang dihasilkan melalui uang atau kekerasan dan hanya memenuhi tuntutan-tuntutan parsial dari pihak yang berkuasa.

Namun kesepakatan-kesepakatan semacam itu tentu tak dapat dinilai legitim. Intuisi sehari-hari kita sulit menerima bahwa kesepakatan memihak yang dihasilkan lewat paksaan itu seharusnya dipatuhi oleh semua orang. Logika sederhana dari hidup sehari-hari kita adalah: Sebuah konsensus yang legitim yang seharusnya dipatuhi oleh semua orang juga membutuhkan persetujuan semua orang.

Intuisi sehari-hari ini diradikalkan oleh Habermas di dalam teori diskursusnya. Sebagai tujuan diskursus praktis, konsensus yang legitim tentang norma- norma yang problematis memerlukan prasyarat-prasyarat tertentu yang memungkinkan semua peserta menganggap sah konsensus yang mereka hasilkan.

Kita berbicara tentang idealisasi, misalnya, di dalam geometri dalam arti bahwa segitiga, bujursangkar atau lingkaran yang kita lukis di atas papan tulis hanya mendekati bentuk-bentuk idealnya.

Idealisasi semacam itu juga terdapat di dalam bahasa pergaulan kita sehari-hari, yaitu bila kita mengandaikan bahwa kata-kata yang kita pakai itu memiliki arti yang umum yang dapat dimengerti oleh orang-orang lain.

Lalu apa artinya mengidealisasikan bentuk-bentuk komunikasi? Habermas mendefinisikan idealisasi komunikasi sebagai suatu proses memikirkan proses- proses komunikasi sedemikian rupa seolah-olah proses-proses tersebut berlangsung di dalam kondisi-kondisi ideal. Jadi, diskursus praktis di sini mengacu tidak hanya pada proses komunikasi yang ideal, melainkan juga pada aturan-aturan komunikasi yang ideal yang diformalisasikan dari proses komunikasi ideal itu.

GRMLJAVINA PRAVDE PDF

Melampaui Positivisme dan Modernitas

Shelves: filsafat Dipadukan dengan buku F. Budi Hardiman lainnya yg berjudul Menuju Masyarakat Komunikatif, buku ini merupakan karya terbaik dalam bahasa Indonesia bagi siapapun yg hendak menyelami pemikiran filsafat sosial Juergen Habermas. Urutan pembacaannya sebaiknya Kritik Ideologi ini lebih dahulu, lalu berlanjut ke buku Menuju Masyarakat Komunikatif. Selanjutnya, untuk lebih memperdalam, pembaca bisa pula menyimak karya Franz Magnis-Suseno yang berjudul Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, yang juga berbicara Dipadukan dengan buku F. Selanjutnya, untuk lebih memperdalam, pembaca bisa pula menyimak karya Franz Magnis-Suseno yang berjudul Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, yang juga berbicara seputar pemikiran Juergen Habermas.

JOSEPH LEDOUX SYNAPTIC SELF PDF

F. Budi Hardiman

Banyak di antara sejarawan filsafat sepakat bahwa Sejarah Filsafat Modern berawal pada Rene Descartes , sehingga tidak heran ia disebut sebagai Bapak Filsafat Modern. Inilah sebuah langkah baru yang melampaui keterkukungan terhadap kekuatan lain yang mengintervensi kekuatan rasional. Kendatipun demikian, kelahiran era pemikiran baru tersebut, hanya dimungkinkan oleh gerakan Renaissance yang dimulai pada abad ke dan ke Adapun pemikiran filsafat modern sendiri berkembang begitu luas, sehingga mencakup berbagai aliran dan gaya berfilsafat. Tidak mungkin semua kekayaan intelektual itu dituangkan dalam ruang dan waktu yang terbatas ini. Oleh karena itu beberapa catatan penting, dan pemikiran dari berbagai filsuf terkemuka saja yang akan didiskusikan. Kata Renaissance berarti kelahiran kembali.

BRASHEAR ORTHOPEDIC PDF

Humanisme dan Sesudahnya: Meninjau Ulang Gagasan Besar tentang Manusia

Sejak abad ke gerakan humanis modern tumbuh memberikan penafsiran rasional yang mempersoalkan monopoli agama dan negara terhadap tafsir kebenaran. Humanisme sekular memberi kita keyakinan bahwa kehidupan "dunia-atas-sana" tak lebih penting daripada kehidupan "dunia-bawah-sini". Namun, humanisme tak luput dari kritik. Ketika humanisme menuntun pada suatu kemanusiaan tanpa Tuhan, yaitu keadaan ketika manusia bermain sebagai Tuhan, Hiroshima, Gulag, Killing Fields, Sebrenica, dan puluhan tempat pembunuhan massal lain pada abad ke menjadi tak terhindarkan. Di negeri kita, tragedi kemanusiaan juga tak sepi. Lalu, apakah itu berarti humanisme sudah usang? Ketika kini kebangkitan agama-agama sedang berlangsung mulus tak banyak hambatan dan nilai-nilai universal makin relatif, hikmat apakah yang masih dapat kita pelajari dari humanisme?

SIMPLICIKEY MANUAL PDF

Humanisme dan Sesudahnya PDF Penulis F. Budi Hardiman

.

Related Articles